1
“
JAKARTA, Swaranusa7. com- Kegiatan bakti sosial “Jumat Peduli” yang digelar Polda Metro Jaya di halaman Gedung Promoter, Jalan Sudirman, Jakarta, Jumat (24/7/2026) berujung ricuh. Ratusan warga yang mengantre untuk mendapatkan kupon beras 5 kg dan voucher belanja Indomaret Rp50.000 saling dorong hingga meja ambruk.
Kegiatan yang dikhususkan untuk komunitas pengemudi ojek online ini justru menimbulkan kekecewaan luas. Banyak warga yang datang jauh-jauh harus pulang dengan tangan kosong, sementara pembagian dinilai tidak merata dan salah sasaran.
ISI BERITA:
Kegiatan “Jumat Peduli” rutin digelar setiap Jumat pukul 13.00 WIB di bawah pimpinan Kapolda Metro Jaya Komjen Pol Asep Edi Suheri. Bantuan berupa beras dan voucher belanja ditujukan khusus bagi pengemudi ojek online.
Namun pada pelaksanaan 24 Juli 2026, jumlah warga yang datang membludak. Karena jumlah bantuan terbatas, antrean panjang tidak terhindarkan. Kericuhan pecah saat warga berebut. Beberapa orang dilaporkan terjatuh, bahkan ada seorang ibu yang terluka karena terbentur aspal.
“Yang dapat senang, yang tidak dapat pulang dengan rasa sakit hati dan kecewa. Kalau tidak bisa membagi rata, lebih baik kegiatan ini dihentikan saja,” ujar salah seorang warga di lokasi.
Kritik juga muncul terkait sasaran penerima. Banyak yang menilai pembagian tidak adil karena hanya diprioritaskan untuk ojek online yang sudah memiliki kendaraan dan penghasilan. Padahal, warga pejalan kaki, lansia, dan masyarakat tidak mampu lainnya justru tidak terdata dan tidak kebagian.
“Seharusnya yang dibantu dulu yang paling miskin. Bukan yang sudah punya alat untuk mencari nafkah. Tugas pendataan itu ada di Kemensos dan Dinsos, bukan lewat antre di halaman kantor polisi,” kata warga lainnya.
9 Pertanyaan untuk Polda Metro Jaya:
- Transparansi Dana: Dari mana sumber dana untuk pembelian beras dan voucher Rp50.000 ini? Apakah dari anggaran Polri, sumbangan pihak ketiga, atau sumber lain?
- Kriteria Penerima: Mengapa bantuan hanya dikhususkan untuk ojek online? Bagaimana dengan warga miskin lainnya seperti pejalan kaki dan lansia?
- Pendataan: Mengapa tidak bekerja sama dengan Kemensos/Dinsos menggunakan data DTKS agar pembagian lebih tepat sasaran dan tidak berebut?
- Informasi Publik: Di mana lokasi pasti pembagian, jam berapa, dan berapa jumlah bantuan? Mengapa informasi tidak diumumkan secara jelas?
- Evaluasi Kegiatan: Jika jumlah tidak cukup dan menimbulkan keributan, apakah kegiatan ini akan dievaluasi atau dihentikan?
- Tujuan: Apakah “Jumat Peduli” murni untuk membantu rakyat miskin atau sekadar kegiatan pencitraan?
- Tanggung Jawab: Siapa yang bertanggung jawab atas warga yang terluka akibat saling dorong saat pembagian?
- Tugas Pokok: Bukankah tugas utama Polri adalah penegakan hukum dan keamanan, bukan pembagian bansos tanpa pendataan?
- Tindak Lanjut: Apakah Polda akan membagikan kembali bantuan bagi warga yang sudah hadir pada 24 Juli namun tidak kebagian?
Warga berharap ke depan pembagian bantuan sosial dilakukan dengan mekanisme yang jelas, terdata, dan adil agar tidak lagi menimbulkan kekecewaan dan keributan di masyarakat.
(Roselenny/News)
